10 Orang Terjaring Razia Pemerintah Didorong Lakukan Pendekatan Edukatif
Kabar Binjai – 10 Orang Terjaring Razia penegakan syariat Islam yang digelar oleh Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH) di sejumlah titik keramaian di Banda Aceh, Kamis malam (25/9). Razia ini merupakan bagian dari operasi rutin penertiban busana yang dianggap tidak sesuai dengan ketentuan syariat Islam yang berlaku di Provinsi Aceh.
Mereka yang terjaring terdiri dari pria dan wanita muda yang menurut petugas berpakaian tidak sopan, seperti mengenakan celana ketat, baju transparan, serta tidak menggunakan jilbab bagi perempuan muslim. Para pelanggar kemudian dibawa ke kantor WH untuk diberi pembinaan dan peringatan tertulis.
Penegakan Perda Syariat, Tapi Perlu Humanis
Kepala Bidang Penegakan Syariat Islam WH Aceh, Tgk. M. Fadhil, menjelaskan bahwa razia ini bukan bertujuan untuk menghukum, melainkan sebagai bentuk pengawasan dan pembinaan.
“Kami tidak serta merta menghukum. Mereka yang terjaring kami data, diberi nasihat, dan dibina agar memahami pentingnya berpakaian sesuai syariat. Ini bagian dari amar ma’ruf nahi munkar,” ujar Fadhil.
Namun, ia juga menekankan bahwa operasi ini tetap mengedepankan pendekatan humanis dan tidak dilakukan secara represif. “Kami tidak ingin membuat masyarakat merasa dihakimi, melainkan mengajak mereka untuk lebih sadar terhadap aturan yang berlaku di Aceh,” tambahnya.
Baca Juga: Narkoba Ancaman Nyata bagi Masa Depan Aceh!
Respons Publik: Dukung Tapi Harapkan Pendekatan Lebih Persuasif
Meski operasi ini sesuai dengan Qanun Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Syariat Islam di Bidang Aqidah, Ibadah, dan Syiar Islam, sebagian masyarakat menilai bahwa pendekatan persuasif dan edukatif harus terus ditingkatkan.
Aktivis sosial, Nurhaliza Yani, menilai razia semacam ini bisa berdampak positif jika dilakukan dengan cara yang menghormati martabat warga. “Penegakan hukum syariat itu penting, tapi harus diiringi dengan edukasi yang membangun kesadaran, bukan sekadar pembatasan,” katanya.
Ia menyarankan agar pemerintah daerah, khususnya Dinas Syariat Islam, memperbanyak program penyuluhan kepada remaja dan komunitas pemuda, terutama di sekolah dan kampus, tentang pentingnya berpakaian sesuai nilai-nilai Islam dan budaya Aceh.
10 Orang Terjaring Razia Pengawasan Akan Terus Ditingkatkan
Pihak WH menyatakan bahwa razia akan terus dilakukan secara rutin di berbagai tempat, termasuk di kafe, tempat wisata, dan pusat perbelanjaan. Langkah ini dianggap sebagai bagian dari komitmen Pemerintah Aceh dalam menegakkan identitas syariah yang menjadi ciri khas daerah tersebut.
Namun, mereka juga mengimbau agar masyarakat ikut berperan aktif dalam menjaga norma-norma yang berlaku. “Kami harap masyarakat menjadi mitra pengawasan. Jika melihat pelanggaran, laporkan secara baik, bukan dengan menghakimi,” pungkas Fadhil.
Kesimpulan
Penegakan syariat di Aceh tetap menjadi sorotan nasional, baik karena keunikannya maupun pendekatannya. Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya pada seberapa kuat aturan ditegakkan, tetapi bagaimana menumbuhkan kesadaran dari dalam masyarakat agar nilai-nilai syariat tidak sekadar ditaati, melainkan benar-benar diyakini dan dijalankan dengan penuh keikhlasan.











