Kakek 82 Tahun di Sukoharjo Tewas Tertimpa Puing Rumah Lapuk: Tragedi Akibat Kondisi Bangunan Tak Layak Huni
Kabar Binjai – Kakek 82 Tahun Sebuah tragedi memilukan terjadi di Desa Sidorejo, Kecamatan Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Kamis malam (1 Februari 2026), ketika seorang kakek berusia 82 tahun, bernama Sumarno, ditemukan tewas tertimpa puing-puing rumahnya yang runtuh. Insiden tersebut diduga disebabkan oleh kerusakan struktural pada bangunan rumah yang sudah sangat lapuk dan tidak layak huni.
1. Kejadian Malam yang Tragis
Peristiwa tragis ini terjadi sekitar pukul 22.30 WIB, saat Sumarno tengah berada di dalam rumahnya yang terbuat dari bahan kayu dan bambu yang sudah usang.
Menurut keterangan saksi mata, salah satu tetangga yang mendengar suara keras saat kejadian segera berlari menuju rumah Sumarno dan mendapati bagian atap dan dinding rumah runtuh, menimpa korban yang sedang tidur di ruang utama rumah.
“Kami mendengar suara retakan keras, lalu gemuruh yang sangat besar. Waktu kami sampai, rumah sudah roboh sebagian, dan Pak Sumarno sudah tidak bisa bergerak,” kata Mislan, tetangga dekat korban.
Tim SAR dan petugas pemadam kebakaran yang segera datang ke lokasi langsung melakukan evakuasi. Namun, sayangnya, Sumarno ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia akibat tertimpa puing-puing rumah.
Baca Juga: Refleksi 100 Tahun NU Menjaga Nyala Khidmah NU di Abad Kedua
2. Kondisi Rumah yang Tak Layak Huni
Rumah Sumarno, yang terletak di ujung desa, memang sudah lama menunjukkan tanda-tanda kerusakan parah. Warga setempat menyebutkan bahwa bangunan rumah tersebut telah terpapar cuaca ekstrem dan usia yang sangat tua, namun Sumarno tetap bertahan tinggal di sana karena keterbatasan ekonomi.
Menurut salah seorang kerabat dekat korban, Sumarno memang tidak memiliki sumber pendapatan tetap dan mengandalkan bantuan dari anak-anaknya yang sudah merantau. Keterbatasan ekonomi ini membuatnya kesulitan untuk merenovasi rumah atau memindahkan diri ke tempat yang lebih aman.
“Pak Sumarno memang sudah tua, dan rumahnya sudah lapuk sekali. Sayangnya, karena kondisi keuangan, dia tidak bisa merenovasi rumahnya yang sangat usang itu,” ungkap anak saudara korban, Siti Nurjanah, yang ikut datang ke lokasi kejadian.
3. Tanggapan Pemerintah dan Langkah Ke Depan
Kejadian tragis ini memicu perhatian banyak pihak, termasuk pemerintah setempat, yang segera turun tangan untuk mengevaluasi kondisi rumah-rumah yang ada di sekitar daerah tersebut. Selain itu, mereka berencana untuk menyalurkan bantuan bagi warga lain yang tinggal di rumah-rumah yang tidak layak huni, terutama yang berisiko tinggi runtuh akibat kerusakan struktural.
“Ini adalah sebuah tragedi yang sangat menyedihkan, dan kami akan segera melakukan pengecekan untuk rumah-rumah lain yang memiliki kondisi serupa.
4. Kakek 82 Tahun Meningkatkan Kesadaran akan Pentingnya Rumah yang Layak Huni
Peristiwa ini mengingatkan kita akan pentingnya perhatian terhadap kondisi tempat tinggal, terutama bagi warga lanjut usia atau mereka yang kurang mampu secara ekonomi. Kejadian seperti ini bisa saja terjadi pada siapa saja yang tinggal di rumah yang sudah sangat rusak dan tidak terawat dengan baik.
Penting bagi pemerintah untuk meningkatkan program bantuan renovasi rumah tidak layak huni, khususnya di daerah pedesaan yang sering kali terlupakan.
5. Kakek 82 Tahun Duka yang Mendalam bagi Keluarga
“Saya sangat kehilangan beliau. Meskipun sudah tua, beliau selalu ada untuk kami. Rumah ini memang sudah rapuh, tapi kami tidak pernah menyangka kalau kejadian ini bisa menimpa keluarga kami,” ungkap anak perempuan korban, Sri Wahyuni, dengan mata berkaca-kaca.
Sumarno meninggalkan dua orang anak dan beberapa cucu yang kini tengah merencanakan pemakaman dan upacara penghormatan terakhir untuk almarhum.
6. Pentingnya Pemeriksaan dan Pemeliharaan Rumah Lansia
Tragedi ini memberikan pelajaran penting tentang pentingnya pemeriksaan dan pemeliharaan rumah, terutama bagi para lansia yang mungkin tidak memiliki kemampuan untuk merawat rumah mereka sendiri.











