Cak Imin Bongkar Fakta: Ponpes Al Khoziny Usia 125 Tahun dan Risiko Bangunan Tua
Kabar Binjai – Cak Imin Bongkar Fakta Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, mengungkap fakta krusial terkait tragedi ambruknya mushala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Di depan publik, ia menyebut bahwa pesantren tersebut telah berdiri selama 125 tahun, dan menyatakan bahwa usia dan keterbatasan anggaran menjadi faktor utama yang memperparah kerawanan bangunan.
Ungkapan Cak Imin: Usia & Perencanaan Lemah
Cak Imin menegaskan bahwa bangunan pesantren tua umumnya tidak disertai perencanaan teknik yang memadai:Rata‑rata pesantren dengan bangunan sangat tua itu tidak diikuti dengan perencanaan yang memadai,” ujarnya.
Menurutnya, ada tiga faktor utama yang menyebabkan pondok pesantren seperti Al Khoziny berpotensi mengalami keruntuhan:
Keterbatasan anggaran – banyak pesantren memilih metode tambal sulam dalam renovasi, daripada melakukan pembangunan struktural yang lebih aman.
Baca Juga: Robbie Williams Penyanyi Asal Inggris Ditolak Tampil di Turki Atas Tuduhan Zionisme
Langkah Pemerintah: Audit & Standarisasi
Beberapa kebijakan yang disiapkan antara lain:
Pendataan dan verifikasi kelayakan bangunan ponpes tua secara nasional.
Kolaborasi lintas kementerian, termasuk Kementerian PUPR dan Kementerian Agama, guna mengevaluasi dan membiayai renovasi struktural bagi pesantren yang dianggap rawan.
Penetapan prioritas pada pesantren yang paling tua dan paling rentan dari segi fisik.
Cak Imin juga mengimbau agar pembangunan berikutnya tidak dilakukan secara sembarangan:
Pesantren yang membangun hendaknya menggunakan standar ilmu teknik … untuk yang belum ada ahlinya, tolong dihentikan dulu,” tegasnya.
Cak Imin Bongkar Fakta Sejarah & Tantangan Al Khoziny
Beberapa catatan sejarah menyebut bahwa Ponpes Al Khoziny telah berdiri sejak era sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, sehingga usia 125 tahun yang disebutkan oleh Cak Imin merujuk pada periode panjang sejak masa kolonial.
Penutup & Harapan
Dengan gagasan audit nasional pesantren tua dan upaya standarisasi bangunan keagamaan, Cak Imin berharap insiden serupa tak lagi terulang. Menurutnya, keselamatan santri harus menjadi prioritas pemerintah bersama lembaga keagamaan.
Dan sejauh mana pesantren itu sendiri bersedia membuka diri terhadap intervensi teknis demi keselamatan dasar?
Cak Imin Bongkar Fakta Bangunan Tua Minim Perencanaan
Menurut Cak Imin, usia bangunan yang sangat tua menjadi salah satu faktor utama runtuhnya bangunan tersebut. Ia menilai banyak pesantren di Indonesia, khususnya yang sudah berdiri sejak puluhan hingga ratusan tahun lalu, dibangun tanpa perencanaan teknik bangunan yang memadai.
Rata-rata pesantren tua tidak dibangun dengan perencanaan struktur teknik yang cukup. Umumnya dibangun secara swadaya dan bertahap, tanpa konsultasi teknis,” ujar Cak Imin dalam keterangannya di Jakarta, Senin (7/10).
Ia juga mengungkap bahwa musala yang ambruk tersebut telah berusia sangat lama dan tidak pernah direnovasi secara menyeluruh. Hal ini menyebabkan struktur bangunan melemah dan akhirnya runtuh.
Kondisi Pesantren Tua di Indonesia
Lebih lanjut, Cak Imin menyebut bahwa Pondok Pesantren Al Khoziny merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Timur dan Indonesia secara umum. Berdiri sejak lebih dari satu abad lalu, pondok ini memiliki peran besar dalam sejarah pendidikan Islam di wilayah tersebut.
Al Khoziny usianya sudah 125 tahun. Ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap pesantren-pesantren tua yang selama ini luput dari pantauan teknis,” tambahnya.
Menurutnya, banyak pesantren tua masih menjalankan aktivitas pendidikan dengan fasilitas bangunan yang sudah lapuk, namun karena keterbatasan anggaran, perbaikan dilakukan secara bertahap dan seadanya.
Audit Nasional untuk Pesantren Tua
Sebagai respons atas insiden ini, pemerintah berencana melakukan audit nasional terhadap bangunan pesantren tua. Audit ini akan difokuskan pada pesantren yang berusia di atas 100 tahun dan memiliki bangunan permanen tanpa sertifikasi teknis.











