Belajar dari Hokkaido untuk Membangun Aceh yang Tangguh Bencana
Kabar Binjai – Belajar dari Hokkaido Provinsi Aceh di Indonesia memiliki risiko bencana yang cukup signifikan — mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, hingga tanah longsor. Di sisi lain, wilayah Hokkaido di Jepang juga menghadapi risiko besar serupa (gempa, tsunami, perubahan iklim) dan telah melakukan banyak upaya dalam mitigasi dan adaptasi bencana. Artikel ini akan mengeksplorasi pelajaran — dan bagaimana Aceh bisa mengadaptasikannya — dari Hokkaido agar menjadi lebih tangguh menghadapi bencana.
1. Konteks Risiko: Hokkaido vs Aceh
Sebelum “belajar”, penting memahami kondisi Hokkaido sebagai studi kasus.
Hokkaido berada di pinggir lempeng tektonik Jepang, sehingga gempa besar bisa terjadi. Sebagai contoh, 2018 Hokkaido Eastern Iburi earthquake menyebabkan pemadaman besar dan kerusakan infrastrukturnya.
Hokkaido juga menghadapi risiko banjir akibat curah hujan ekstrim, dan telah mengembangkan skenario simulasi banjir berdasarkan proyeksi iklim.
Aceh memiliki sejarah tsunami besar, gempa bumi, dan karakteristik geografi yang sering membuatnya rentan terhadap bencana alam.
Dengan kondisi demikian, belajar dari pengalaman Hokkaido dapat memberi inspirasi bagaimana memperkuat Aceh dalam menghadapi risiko.
Baca Juga: Satu Calon Pahlawan Nasional dari Aceh Diusul Kemensos ke GTK
2. Pelajaran Kunci dari Hokkaido
a) Pendekatan Interdisipliner dan Riset pada Mitigasi
Di Hokkaido, Center for Natural Hazards Research (CNHR) di Hokkaido University mengintegrasikan riset dari bidang teknik, sains, kebijakan publik, ekonomi dan masyarakat untuk memahami dan mengurangi bencana.
Implikasi untuk Aceh: Aceh dapat memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta untuk riset mitigasi. Pendekatan tidak hanya teknis (seperti pembangunan tanggul) tetapi juga sosial-ekonomi dan kebijakan.
b) Pengembangan Skema Prediksi dan Simulasi Risiko
Contoh nyata: pengembangan “digital twin” tsunami oleh Hokkaido University, untuk memprediksi skenario dampak tsunami dan respon optimal secara real time.
Juga, metode simulasi banjir yang menggunakan basis data proyeksi iklim di Hokkaido, untuk mengantisipasi banjir di masa depan.
Implikasi untuk Aceh: Aceh dapat mengembangkan sistem prediksi dan simulasi lokal (misalnya simulasi tsunami, banjir sungai, longsor) menggunakan data topografi dan pemodelan skenario. Dengan demikian, keputusan mitigasi bisa lebih tepat sasaran.
c) Penekanan pada Kesadaran Publik dan Pendidikan Bencana
Hokkaido University menyelenggarakan kuliah umum “Earthquakes and Disaster Prevention in Hokkaido” untuk publik, mengingat bahwa gempa besar bisa terjadi kapan saja.
Implikasi untuk Aceh: Masyarakat Aceh perlu terus diberdayakan lewat edukasi bencana (apa yang harus dilakukan ketika gempa, tsunami, longsor terjadi), latihan evakuasi, dan pembangunan budaya kesiapsiagaan.
d) Infrastruktur dan Kebijakan Penanggulangan Risiko yang Terintegrasi
Hokkaido menerapkan kebijakan seperti “Hokkaido Resilience Plan” yang mencakup mitigasi banjir, gempa, dan perubahan iklim secara menyeluruh.
Implikasi untuk Aceh: Aceh bisa menyusun rencana ketahanan daerah yang menggabungkan mitigasi fisik (tanggul, saluran drainase, bangunan tahan gempa), kebijakan (zona rawan bencana, regulasi konstruksi), dan adaptasi sosial-lingkungan (tanaman penahan longsor, ruang terbuka evakuasi).
e) Pemulihan dan “Membangun Kembali Lebih Baik” (Build-Back-Better)
Penelitian dari Hokkaido membahas konsep “Disaster Recovery Landscape” (DRL) untuk pemulihan yang lebih kuat pascabencana.
Implikasi untuk Aceh: Setelah bencana –- seperti gempa atau tsunami — pemulihan Aceh harus bukan sekadar memperbaiki seperti semula, tetapi memperkuat infrastruktur, sistem sosial, dan kapasitas komunitas agar lebih tahan di masa depan.











