Gotong Royong Tak Cukup, Sekolah Terdampak Banjir di Bireuen Butuh Dukungan Alat Berat
Kabar Binjai — Gotong royong Upaya pemulihan pascabencana banjir yang melanda sejumlah kawasan di Kabupaten Bireuen terus dilakukan oleh warga bersama pihak sekolah. Namun, kerja bakti massal yang dilakukan sejak dua hari terakhir ternyata belum mampu mengatasi kerusakan parah di beberapa sekolah yang terendam lumpur tebal dan tumpukan material banjir. Kondisi ini membuat pihak sekolah menegaskan bahwa bantuan alat berat sangat diperlukan untuk mempercepat proses pembersihan.
Lumpur Setebal 40–60 Sentimeter Menghambat Proses Pembelajaran
Banjir yang dipicu hujan deras berjam-jam telah merendam ruang kelas, perpustakaan, serta halaman sekolah. Ketika air mulai surut, lumpur tebal dan material seperti pasir, kayu, serta bebatuan berukuran besar menumpuk di dalam bangunan sekolah.
Di salah satu sekolah dasar yang terdampak di Kecamatan Peusangan, guru-guru bersama warga telah berusaha membersihkan ruangan dengan cara manual. Namun, lumpur yang mengeras membuat pekerjaan menjadi sangat lambat dan melelahkan.
“Kami sudah gotong royong dua hari penuh, tapi lumpurnya terlalu tebal. Tenaga manusia tidak cukup untuk membersihkan seluruh area sekolah,” ujar seorang guru yang ikut dalam aksi pembersihan.
Baca Juga: Warga Diminta Waspada Banjir Susulan Hujan Guyur Aceh Singkil
Gotong royong Aktivitas Belajar Terhenti Total
Kerusakan paling parah terjadi pada ruang kelas yang digenangi lumpur hingga hampir setinggi lutut. Meja dan kursi murid sebagian besar rusak atau terbalik terbawa arus. Buku-buku pelajaran ikut hancur karena basah dan tertimbun lumpur.
Kondisi ini menyebabkan kegiatan belajar mengajar terpaksa dihentikan sementara. Beberapa sekolah bahkan memperkirakan proses belajar baru bisa dimulai kembali dalam satu atau dua pekan mendatang, tergantung kecepatan pembersihan.
“Kami tidak bisa menunggu lebih lama. Anak-anak harus segera kembali belajar, apalagi menjelang ujian semester,” ungkap kepala sekolah yang meminta dukungan percepatan penanganan.
Warga Sudah Berusaha, Namun Keterbatasan Alat Menjadi Kendala
Gotong royong yang melibatkan masyarakat sekitar, komite sekolah, dan para guru menunjukkan solidaritas yang tinggi. Namun, keterbatasan alat membuat hasilnya tidak efektif. Cangkul, sekop, dan ember tidak cukup untuk memindahkan endapan lumpur dan material banjir yang volumenya mencapai puluhan meter kubik.
Warga menilai bahwa upaya manual hanya mampu membersihkan area kecil. Untuk memulihkan seluruh bagian sekolah, mereka membutuhkan keberadaan alat berat seperti ekskavator mini, dump truck, ataupun mesin penyedot lumpur.
“Kami butuh alat berat untuk mengangkat lumpur dan material besar. Kalau tidak, sekolah ini akan lama kembali normal,” jelas salah satu tokoh masyarakat setempat.
Pemerintah Daerah Diharapkan Turun Tangan
Hingga kini, beberapa sekolah terdampak masih menunggu tindakan dari pemerintah daerah dan dinas terkait. Selain alat berat, bantuan logistik berupa peralatan kebersihan, material perbaikan gedung, dan buku pelajaran juga sangat dibutuhkan.
Masyarakat berharap pemerintah segera menurunkan tim penanganan bencana secara lebih masif agar proses pemulihan dapat berlangsung cepat.
“Kami mengapresiasi gotong royong warga, tapi ini bencana besar. Pemerintah harus hadir dengan dukungan yang lebih kuat,” ujar seorang perwakilan komite sekolah.
Pemulihan yang Cepat Sangat Penting untuk Masa Depan Anak-Anak
Sekolah bukan sekadar bangunan; ia adalah pusat pendidikan dan tempat anak-anak membangun masa depan. Pemulihan cepat diperlukan agar proses belajar tidak terganggu terlalu lama. Kondisi yang dibiarkan berlarut-larut dikhawatirkan berdampak pada kualitas pendidikan dan psikologis siswa.











